Minggu ini, sorot Tabloid Bola membahas posisi playmaker timnas Inggris yang kian lama kian punah. Setelah era Glenn Hoddle (1979-1988) hingga legenda semacam Bryan Robson, Paul Gascoigne, hingga Jamie Redknapp, nyaris tidak ada posisi playmaker di kubu Three Lions. Ketiadaan playmaker ini diikuti prestasi timnas Inggris yang tidak kunjung membaik. Setelah tanpa playmaker nyaris tidak ada gelar internasional yang dapat diraih timnas berbanding terbalik ketika mengedepankan posisi playmaker, Inggris menjelma menjadi suatu kekuatan yang ditakuti di dunia sepakbola. Ironis memang, negara nenek moyang sepakbola ini justru mengalami masa-masa sulitnya disaat liga domestiknya menjadi yang terbaik di dunia.
Salah satu penyebab utama yang menjadi biang kerok kegagalan ini adalah serbuan pemain-pemain impor yang mencari peruntungan ke negeri Inggris. Klub-klub papan Liga Premier Inggris hampir tidak ada yang bertumpu pada pemain (playmaker) lokal. Sebut saja Manchester City yang mengedepankan Samir Nasri (Prancis) dan David Silva (Spanyol) sebagai tumpuan klub. Nani dan Anderson (Brasil) menjadi andalan klub MU untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Chelsea pelan-pelan melupakan kontribusi Frank Lampard seiring hadirnya Juan Mata (Spanyol). Nyaris hanya Arsenal yang masih mengandalkan Jack Wilshere, sebagai produk lokal, yang menjadi playmaker timnya. Selain playmaker, masih banyak posisi lainnya yang tidak menyertakan pemain Inggris sebagai andalan timnya berlaga di Liga Inggris.
Membaca Pertanda
Jika benar kekhawatiran tersebut disebabkan oleh serbuan pemain asing yang menggerus peluang pemain lokal untuk unjuk gigi, itu artinya menjadi pertanda bagi setiap negara khususnya negara berkembang untuk kembali mempertanyakan peluang perdagangan bebas. Aturan Bosman di Liga Eropa sekelebat mirip peraturan yang mengatur tentang perdagangan bebas yang nyaris tidak menyelamatkan perekonomian bangsa. Serbuan produk-produk impor dari China yang diatas kertas dianggap dapat menggenjot daya saing produk lokal, kenyataan yang ada produksi lokal banyak yang gulung tikar. Mulai dari mainan anak-anak, tekstil, hingga komponen elektronik dari China, tidak mampu disaingi produk lokal baik dari segi harga ataupun kualitas. Gempuran bahan pangan murah dari Thailand dan Vietnam atau yang teranyar pekerja outsourcing mancanegara (baca: naturalisasi pemain asing) siap membanjiri negara Indonesia hingga beberapa dekade kedepan. Tulisan ini bukan berarti menjadi suatu sikap skeptis atau antipati terhadap "jajahan" produk-produk asing mengingat banyak pula kontribusi asing terhadap perkembangan yang terjadi di Indonesia sama halnya dengan perkembangan yang terjadi di kompetisi sepakbola Inggris. Namun dirasa perlu semacam perlindungan pada semua elemen nasional sebagai jaminan terselenggaranya kemakmuran bangsa. Bagaimanapun misi penyelamatan produk dan pengusaha domestik adalah hal yang harus diutamakan oleh segenap pemegang kebijakan. Kita tidak tahu kapan saatnya peraturan-peraturan perdagangan ini akan menghancurkan produk dan pengusaha lokal. Di Inggris, sejak aturan Bosman berlaku sejak 17 tahun yang lalu, praktis tidak ada perkembangan yang berarti bagi tim nasional sepakbola Inggris. Akankah?

0 watch out!!:
Post a Comment