Tuesday, March 15, 2011

Nasib Ekspor Impor Indonesia Setelah Bencana Jepang

Disarikan dari Skripsi Sarjana, 2011.

Gelombang tsunami dan gempa yang terjadi pekan lalu di Jepang tidak hanya menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh warga dunia terutama warga Jepang. Setelah memporak-porandakan negeri Jepang, imbas yang mendalam cukup dirasakan dunia mengingat Jepang merupakan salah satu negara kunci perekonomian dunia. Basis industri dunia yang berpusat di negara Matahari Terbit tersebut, seperti elektronik dan otomotif luluh lantak diterjang alam. Berturut-turut, Jepang dibombardir oleh guncangan gempa, tsunami, ledakan pipa gas, dan terbesar risiko radiasi nuklir yang memaksa ribuan warga untuk mengungsi.

Indonesia sebagai negara yang menggantungkan sebagaian perekonomiannya pada Jepang turut mengalami guncangan. Selain hutang dan investasi yang bernilai cukup besar, neraca perdagangan Indonesia juga akan cukup mengalami efek yang sangat signifikan. Sejak tahun 2000, nilai impor Indonesia dari Jepang berada pada kisaran 17 persen dari total impor Indonesia, sedangkan ekspor Indonesia ke Jepang pada selang waktu yang sama rata-rata 14 persen dari total ekspor Indonesia yang bernilai lebih dari 12 miliar USD. Sejak perjanjian kerjasama pertama ditandatangani di tahun 1961, Jepang merupakan negara pertama tujuan ekspor Indonesia dan nilai ekspor dan impor Indonesia dengan Jepang terus menunjukkan tren peningkatan.

Komoditi-komoditi andalan ekspot Indonesia ke Jepang yang bakal mengalami gangguan adalah material-material mentah seperti kayu dan bijih besi dengan nilai rata-rata perkuartalnya adalah 140 miliar Yen (100 Yen = Rp 10738.07). Komoditi lain yang bakal ikut terganggu kinerja ekspornya adalah makanan dan hewan hidup seperti ikan, udang, lobster, sayuran, dan buah-buahan dengan nilai transaksi pertahunnya rata-rata 105 miliar yen. Disamping itu terdapat juga komoditi ekspor andalan seperti bahan baku industri di Jepang seperti logam buatan pabrik, material/komponen elektronik seperti televisi, reaktor nuklir dan lain-lain.
Disisi lain, kinerja manufaktur di Indonesia juga cukup bergantung pada kinerja perekonomian di Jepang, mengingat impor Indonesia dari Jepang sebagian besar merupakan barang baku penolong yang otomatis akan mengganggu aktifitas domestik Indonesia (walaupun Indonesia dapat memperoleh bahan dari negara lain).

Kondisi diatas memperlihatkan, situasi yang sulit bagi Indonesia. Pertama, karena menurunnya permintaan dari Jepang, yang berarti eksportir Indonesia kehilangan "pelanggan tetap" untuk beberapa saat karena struktur ekspor Indonesia yang tidak terdiferensiasi. Kedua, Indonesia akan kehilangan pendapatan yang cukup besar dari nilai transaksi perdagangan yang bakal terganggu, yang berarti akan menahan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Untuk itu, dalam jangka panjang, pemerintah perlu lebih interaktif membantu para pengusaha Indonesia, baik dengan melakukan pencarian pasar baru komoditas ekspor Indonesia selain ke Jepang, atau secara tepat mengembangkan industri-industri berbahan baku yang di ekspor ke Jepang. Dengan demikian, para pengusaha (baik komodotas yang dikonsumsi atau inedible) tidak perlu khawatir akan gejolak yang terjadi pada negara tujuan ekspor Indonesia.

3 watch out!!:

  1. tapi sus, menurut gw, terlepas dari krisis nuklir, kebanyakan infrastruktur di Jepang tidak terlalu parah kerusakannya relatif terhadap gempa tsunami aceh maupun gempa New Zealand.

    Menurut gw sih, justru kondisi tersebut bisa menjadi sebuah potensi, dimana tingkat konsumsi jepang akan sangat tinggi nantinya. Ditambah kemampuan dan kemauan bertahan masyarakat Jepang yang sangat tangguh.

    Jadi, hemat gw sih, mungkin bencana ini memang memberikan "shock" buat ekonomi Indonesia, tapi tidak dalam taraf yang mengkhawatirkan.

    ReplyDelete
  2. Gw sepakat dengan paragraf terakhir lu Bhas. Ekspor Indonesia ke Jepang hanya menempati urutan ketiga dari sisi negara tujuan setelah AS dan China.
    Selain itu, trade balance hanya menempati porsi kecil dari pembentukan PDB Indonesia (terbesar konsumsi), tapi tidak menutup kemungkinan komposisi ini akan mengalami "sedikit" gangguan khususnya komponen konsumsi dan investasi, dalam kaitannya dengan rantai produksi domestik.

    Namun, faktor-faktor lain seperti yang gw paparin diatas, hutang dan investasi, jadi perhatian serius, Bhas. Hutang Jepang sekarang 200% lebih dari total GDP mereka. Pasar uang Indonesia udah memperlihatkan gejala-gejala penurunan, tapi dipastikan bakal mengalami perbaikan kembali seiring dengan rekonstruksi di Jepang, hal yang sama terjadi pada neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang.

    Anyway, nice share! Thanks udah berkunjung! :)

    ReplyDelete
  3. Aldi Riza FachriMar 21, 2011 06:54 PM

    Klo untuk urusan perdagangan, pada komoditas tertentu (tidak secara keseluruhan, sama seperti bhas dan lo udah jabarkan) pastilah mengalami shock bang. contohnya ekspor ikan. gw dgr dari berita katanya udah ada pemerosotan jumlah ekspor ikan kita ke Jepang.

    tapi gw punya feeling nantinya bakal ada peningkatan ekspor ikan juga bang. Karena tingkat radiasi nuklir udah mencemari air laut.

    tp kita juga dapet kelimpahan peningkatan permintaan ekspor migas dari Jepang. Lagi krisis energi kayak gini di Jepang, pastilah dya butuh kepastian sumber energi untuk mensuplai kebutuhan energi masyarakat dan perusahaan di Jepang.

    Untuk investasi di Indonesia dari Jepang, yang mengalami penurunan itu paling portfolio investment , seperti yg lo bilang sus. Perusahaan Jepang di sana narik dananya untuk perbaikan bisnis mereka sendiri. Klo FDI sendiri sepertinya gak terlalu berpengaruh sus mengingat biasanya investasi dari FDI ini adalah perusahaan2 Jepang yang memang memiliki rantai produksi di luar Jepang sehingga tidak berpengaruh dengan adanya tsunami tsb. Tapi kemungkinan besar adanya peningkatan pada barang modal dari Jepang

    CMIIW

    ReplyDelete