Thursday, March 17, 2011

Jamaah Ahmadiyah: Kenapa Harus Dibunuh?

Teror yang melanda Ahmadiyah, agama yang tidak diakui di republik demokrasi ini, semakin menjadi-jadi. Kalau bukan karena isu politik-hukum; narkotika dan artis; atau rangkaian bom di negara ini, bukan tidak mungkin kekerasan terhadap agama ini akan semakin besar. Seperti biasa, ajaran yang dianggap kontroversial ini menelurkan banyak pro dan kontra. Banyak yang setuju dibubarkan, namun tidak sedikit yang mendukungnya untuk tetap bertahan.

Kejadian yang paling teringat akan kekerasan pada agama ini apalagi kalau bukan peristiwa Cikeusik, yang mana rekaman kekerasannya beredar luas di dunia maya dan begitu mudah diakses oleh siapa saja.Pemerintah sudah mengambil jalan tengah, yang dianggap tidak adil oleh mereka yang mengatasnamakan tuhannya untuk membantai sesama.
Tidak ada yang tahu persis bagaimana kejadian itu dimulai, siapa yang mendalangi, atau atas dasar apa sehingga terjadi. Sebagian menganggap, Ahmadiyah harus dibubarkan, tidak sesuai bahkan jauh dari ajaran-ajaran Islam. Dibubarkannya Ahmadiyah menjadi harga mati atau bahkan pengikutnya juga harus mati.
Ironis memang. Disaat Indonesia sedang mencoba membangun kepercayaan dunia atas indahnya keanekaragaman budaya dan agama, kejadian ini seakan mencoreng muka bangsa Indonesia. Beruntung Presiden tidak memenangi nobel perdamaian tahun 2006, kalau tidak, apa kata dunia atas aksi ini? Pondasi demokrasi yang dibangun susah payah sejak dulu seakan menemui jalan buntu.

Jauh sebelum kekerasan ini terjadi, Wali Songo mengajarkan Islam kepada penduduk Jawa, yang kebanyakan masih beraliran animisme. Sukses besar diraih mereka, hingga menjadikan pulau Jawa sebagai pulau dengan mayoritas muslim terbesar di Indonesia (atau bahkan di dunia?). Ajaran yang diberikan tanpa kekerasan, semua mengajarkan ilmu kebajikan persis sama seperti yang tertulis pada Al-Quran. Tidak mudah memang, ada yang resisten terhadap ajaran baru yang dibawa Wali Songo. Namun secara perlahan, melalui kebudayaan-kebudayaan yang dianut masyarakat setempat, seperti wayang dan alat musik, berbagai aliran kepercayaan ditinggalkan masyarakat dan memeluk Islam.
Di utara Sumatera tahun 1862, Ludwig Ingwer Nommensen, misionaris Jerman, secara tekun mengajarkan agama Kristen Protestan kepada masyarakat Batak kurang lebih selama 57 tahun. Hasilnya, jutaan pengikut Nommensen bertahan hingga sekarang, terlihat dari Gereja HKBP yang tetap eksis ditengah maraknya ajaran-ajaran kepercayaan baru. Tokoh-tokoh diatas meyebarkan agama dengan sangat sabar dan tekun. Seperti pepatah umumnya, ajaran yang didapatkan/diberikan secara instan tidak akan bisa bertahan lama.

Kembali ke masa sekarang? Mengapa tidak ada lagi semangat Wali Songo itu? Atau Nommensen? Apalagi mereka yang mengaku paling paham akan ajaran agamanya.. Mengapa harus dengan kekerasan? Saya pribadi angkat topi dengan cara-cara orang jaman dulu dalam mengajarkan agama. Mengajarkannya dengan tulus, sabar, dan tekun. Tidak jarang ancaman-ancaman didapat mereka tapi mereka tidak pernah menyerah. Pesan moral tokoh agama tersebut gagal ditangkap oleh mereka pelaku kekerasan terhadap agama. Secara tidak sadar, yang tinggal hanya benci dan trauma atas aksi-aksi kekerasan ini. SKB 3 Menteri nyaris hanya pepesan kosong. Bualan belaka kalau tidak diikuti oleh upaya-upaya persuasif untuk meminta kembali Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar. Saya memang bukan pemuka agama, bukan pula orang yang mengerti agama. Yang saya tahu, semua ajara agama mengajarkan kebaikan dan tak satupun agama yang mendorong umatnya untuk melakukan penganiayaan terhadap sesamanya manusia. Jalan terbaik adalah menyadarkan mereka yang dianggap telah menyimpang, bukan dengan cara-cara yang lebih mirip pendidikan binatang di sirkus jalanan, memang tampak indah dari luar, tetapi di dalamnya menyimpan sejuta dendam dan duka yang siap memporakporandakan pertunjukan sirkus.

1 watch out!!:

  1. Untuk Rensus Bonatua:
    Jika saya asumsikan anda seorang kristiani, lalu ada sekelompok orang yang menamakan diri mereka JUGA kalangan kristiani tetapi mereka MENISTAKAN Tuhan Yesus dan berusaha mempengaruhi setiap penganut kkristiani di lingkungan anda untuk juga MENISTAKAN Tuhan Yesus, anda dimusuhi oleh mereka, pendeta2 yang anda hormati DILECEHKAN oleh mereka dan dianggap keluar dari ajaran kristiani "yang benar" menurut keyakinan mereka, kira2 apa yang anda lakukan, Saudara Rensus Bonatua?

    ReplyDelete