Thursday, January 13, 2011

(Belum) Setengah Januari

13 Januari 2011,  di sebuah ruangan diskusi:
"Sebutkan hal-hal positif yang telah dicapai negara ini dalam beberapa bulan terakhir?" Tanya fasilitator kepada para peserta diskusi,
Beberapa peserta mengerutkan kening. Peserta lain tak jauh berbeda, berbagai referensi dibuka dari gadget canggih mereka, tapi tak satupun segera mengacungkan tangan.
Semenit.. 10 menit... Jawaban tak kunjung datang.
Hal ini kontras berbeda ketika sebelumnya sang fasilitator bertanya tentang isu permasalahan yang kerap dialami bangsa ini,
Peserta dengan latar belakang sarjana hukum dengan mudah memaparkan kekesalannya akan berbagai kasus hukum yang melanda negeri ini. Mulai dari keistimewaan Jogja, pertukaran tahanan penjara, remisi Ayin, hingga ke masalah plesir dan kejahatan pajak Gayus Tambunan. Sebelumnya Chris, mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu politik, sudah memaparkan kekecewaannya dengan sikap pemimpin partai yang ribut dengan kursi presiden 2014. Dari mulutnya sering terujar kata-kata resuffle kabinet. Pembangunan gedung mewah DPR pun tak lupa disorotinya. 
Ada lagi Sylvia yang kecewa berat dengan sikap Tifatul Sembiring yang berencana blokir RIM BB di Indonesia. Tak heran, perempuan ini sangat maniak akan BB, separuh napasnya habis untuk BB, Sylvia pun tampak geram akan ulah konyol sang menteri. "Pak menteri seharusnya mempermasalahkan pajak BB, bukan konten porno yang seolah dia berlagak Tuhan atau Menteri Agama. Sejatinya hal-hal yang bisa diatur oleh privat, tak perlu diurus oleh pemerintah!" Teriaknya lantang. 
"Cukup-cukup, tahan opini anda. Berikutnya anda yang berbaju batik." Sela sang moderator ketika melihat situasi menjadi panas dan mempersilahkan peserta lainnya mengemukakan opini.
Safii, mahasiswa berprestasi asal Payakumbuh, kemudian menyoroti harga cabe yang belakangan harganya terlalu pedas. Telur balado hidangan warteg langganannya tak pedas lagi, karena harganya yang sulit dijangkau pengelola warung. "Jelas ini merupakan permasalahan bangsa. Komoditi cabe gak berbeda jauh dengan BBM yang harganya dipersiapkan untuk melambung tinggi." Ujarnya dengan gaya berapi-api. 
Poltak, si notulen rapat, mulai kelabakan mencatat semua berita acara. Lembar-lembar notulensi mulai terisi penuh. Daftar di atas melengkapi penyakit-penyakit bangsa lainnya yang telah dikemukakan peserta-peserta sebelumnya, seperti prestasi timnas, LPI vs ISL, Nurdin Halid-Nirwan Bakrie dan kerabatnya di PSSI, Ujian Nasional, dan busway koridor IX dan X.
Poltak sibuk mencatat, hingga akhirnya meminta moderator menyudahi serbuan peserta atas kekecewaan pada negara ini. Beberapa masalah ada merupakan masalah lama dan ada juga yang baru. Poltak melihat kalender, raut pesimis tergambar di wajahnya. Bahkan satu halaman bulan di 2011 belum terlewati, bahkan setengahnyapun, tapi catatan-catatan di buku notulensi semakin dipenuhi akan permasalahan yang kian menumpuk. Dihisapnya rokok kretek terakhir dalam-dalam. Sesekali terdengar helaan nafas dari hidungnya yang bangir.
Akhirnya senyumnyapun mulai mengembang ketika sang moderator beralih pada topik diskusi berikutnya: pencapaian positif Indonesia. Sayang, senyumnya bertahan hanya beberapa detik, sebelum akhirnya kembali pasang raut murung saat menyadari tak ada satu peserta yang berargumen atas pertanyaan moderator.

0 watch out!!:

Post a Comment