Thursday, March 25, 2010

PSSI dan Indonesia 1965

Melihat kondisi PSSI yang amburadul saat ini, sekilas hampir mirip dengan negara ini tahun 1965 silam. Kalau lembaga tertinggi sepakbola kita saat ini sedang menghadapi permasalahan pada lemahnya manajemen pengurus khususnya dari ketua umumnya, 35 tahun yang lalu Indonesia untuk pertama kalinya berada di puncak kejemuannya akan pemimipin negaranya, Soekarno. Hiperinflasi, tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, juga demokrasi terpimpin menjadi momok pembangunan pada saat itu.

Dari PSSI, beban malu yang harus ditanggung saat ini tak jauh beda. Mulai dari tawuran antar suporter, perkelahian antar pemain, suap wasit, perilaku abmoral dari pemilik klub, hingga pembinaan sepak bola yang tidak tepat sasaran. Semuanya itu bermuara pada minimnya prestasi klub atau timnas Indonesia. Tak perlu buru-buru prestasi dunia, untuk menghitung prestasi di Asia Tenggara saja muka harus mengkerut murung.

Proyek-proyek mercusuar Soekarno atau Asian Games pada masa itu setali tiga uang dengan ambisi tanpa asa pengurus PSSI untuk menang bidding Piala Dunia 2022, atau pengiriman timnas ke Uruguay. Semua mata menutup malu akan minimnya pertumbuhan ekonomi ’65 demikian juga dengan prestasi PSSI. Mengapa tidak? Kalau pada orde lama itu sulitnya untuk mendapatkan pinjaman dari asing karena Indonesia termasuk negara besar berkembang yang mengalami perekonomian kronis, di masa sekarang, setiap kali klub Liga Super atau Timnas kita berhadapan dengan tim asing, tim lapis kedua acap kali menjadi pilihan manajer klub asing tersebut.

Pemulihan ekonomi ‘65 dimulai saat orde lama digantikan oleh orde baru. Sang Revolusioner, digantikan oleh Presiden Soeharto. Berlanjut kemudian pada penunjukan pandawa teknokrat ekonomi untuk menyelamatkan perekonomian, antara lain: Widjojo Nitisastro, Soubroto, Ali Wardhana, Mohamad Sadli, dan Emil Salim.

Penyelamatan ekonomi dilakukan dengan kebijakan-kebijakan ekonomi. Stabilitas harga, suku bunga dan kurs yang relatif terkendali, dan juga swasembada pangan tak lepas dari kiprah ekonom hebat tersebut. Soeharto-pun begitu terpukau dengan kehebatan tim ini, apalagi kalau bukan karena prestasi-prestasi yang mereka ukir khususnya dalam menyelamatkan perekonomian nasional dan mengembalikan reputasi bangsa di kancah internasional.

Sampai titik ini, PSSI belum mengambil langkah. Kalau mau meniru prestasi rebound Indonesia pasca Orde Lama, PSSI harus melakukan “pemakzulan” kursi ketua umum. Kemudian memilih orang-orang yang benar-benar paham akan permasalahan sepakbola atau minimal olahraga bukan politik-politik kepentingan yang selama ini sering dilakukan.

Ada baiknya pembenahan di tubuh PSSI matang pada perubahan cara berpikir pengurus yang lebih mengedepankan tuntutan masyarakat Indonesia yang gila bola bukan untuk kepentingan bisnis belaka. Tak ada yang paling indah selain melihat Bonek dan Jak Mania yang tertib, wasit anti suap, kompetisi Liga Super sekelas Liga Premier, atau Lionel Messi dan Christiano Ronaldo made in Indonesia. Seandainya itu semua terwujud, Indonesia tidak perlu lagi untuk mimpi-mimpi besar lain. Apalagi kalau bukan mengangkat trofi Piala Asia atau mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan di kancah Piala Dunia. Semoga!

0 watch out!!:

Post a Comment