Thursday, November 5, 2009

Ada Amatiran di Jogja











berturut-turut searah jarum jam:
1. siluet pandawa
2. innocent smile
3. challenging the sky
4. jangan kau curi lagi
5. God at the end road

Read More...

Thursday, September 17, 2009

Ulang Tahun (Lagi)

Thanks God....
Anta sudah kasih ane umur yang panjang....
Genap sudah 22... Usia yang relatif nanggung! mau dibilang muda, nggak pantes... Tua? apalagi...

Makasih banyak buat Pamela Octaria, yang udah ngasih kejutan dan kado yang sangat spesial.. Kalo liat kado dan kejutannya, gue jadi pengen ulang tahun lagi dah!!
Disini peribahasa kuno emang nyata... "Air susu dibalas air tuba".. Hahaha...

Makasih juga buat teman-teman sesama penghuni bumi yang sesak ini, yang udah ngucapin "happy birthday, Rensus!!", baik secara langsung ataupun tidak langsung, formal tidak formal, ikhlas ataupun tidak, yang gak bisa gw bales satu persatu.... Semoga ulang tahun berikutnya lebih banyak lagi. kalo yang sekarang bisa lebih dari 100 ucapan, mudah2an kedepan bisa lebih dari 1000 ucapan... Amiiin.. Makanya, jauh-jauh hari sebelumnya ingetin temennya yang lupa atau pura-pura gak inget ye...

Selamat ulang tahun juga buat juragan-juragan pemilik KTP dengan seri 160919XX yang kebetulan, Tuhan kasih nafas pertama di tanggal yang sama dengan ane. Alice, Ribon, Ainu, Ramlan, Dina, Sri Edi, Abraham, dll yang juga tentu masih banyak lagi. Insyaallah tahun depan makin banyak lagi orang yang gue kenal punya ultah yang sama dengan gue... (tercetus ide pengen bikin grup di fesbuk... Hahaha) Panjang umur bos! Tapi jangan juga terlalu panjang, enteng jodoh (buat yang belum dapet), murah rezeki (yang gue yakin semua orang pasti susah dapetnya tapi pasti bakal dapet). Semoga lu semua punya birthday yang berkesan, seperti kata Paris Hilton,

"The way I see it, you should live everyday like its your birthday."

Read More...

Friday, July 31, 2009

Acuh tak Acuh

Gara-gara bosen nunggu Bikun yang tak kunjung datang, akhirnya kuputuskan untuk naik sepeda aja. Dari kampus sampai ke Stasiun UI. Jam masih menunjukkan pukul 16.30 kurang , tapi entah karena budaya kerja di Indonesia, aku nyaris saja harus jalan kaki seperti biasanya dari kampus ke stasiun UI. Akhirnya dengan segala upayaku mempertanyakan jam operasional sepeda, akhirnya berhasil kukayuh sepeda kuning itu ke stasiun. Rasa jengkel masih ada. Maklum saja, manusiawi. Apalagi kalo dicampur dengan ingatan yang menjengkelkan kala disetiap pagi hari, jam 9 lewat dikit, tak pernah kutemukan satu sepedapun di stasiun padahal poster operasional sepeda UI menegaskan kalo jam operasionalnya adalah 09.00 s.d. 17.00.

Maklumlah, sebagai seorang mahasiswa pas-pasan, sudah sewajarnya aku menggunakan moda transportasi umum, itung-itung juga sekalian kampanye anti global warming.
Tepat di stasiun UI, aku lihat banyak sekali spanduk putih BEM UI bertuliskan merah yang mengajak untuk berdemo menuntut masalah APBN. Tak begitu jelas kuperhatikan. Begitu banyak orang bersileweran tak notice dengan panggilan BEM itu. Lebih baik mengejar kereta sore kalo gak mau empet-empetan ampe setengah mampus di KRL yang lebih sore lagi. Yasudahlah, emang sudah seharusnya mahasiswa menjaga semangat pergerakan. Tapi, kalo begini caranya, apa bedanya dengan badut atau pedagang obat anti modar? Apakah caranya masih harus sekonvensional itu? Dengan lantang pula terdengar suara mahasiswi dari balik megaphone berteriak, kurang lebih seperti ini:

“Mahasiswa takut sama Dosen,
Dosen takut sama Rektor,
Rektor takut sama MWA,
MWA takut sama Menteri,
Menteri takut sama Presiden,
Presiden takut sama Mahasiswa!!”

Takut mbahmu!! Seruan itu terdengar angel aja. Bukan mencoba untuk menjadi seorang humanis, semua orang takut hanya pada Tuhannya, kecuali mereka yang sudah kebal dengan api neraka. Sampai detik ini, tak pernah kulihat presiden takut sama mahasiswa. Dulu mungkin iya, atau mungkin di negara lain. Coba sama-sama kita mengingat, berapa perjuangan mahasiswa UI atau BEM-SI atau BEM universitas lainnya yang bisa berhasil tembus ke Presiden? Masalah anggaran pendidikan 20%? RUU Anti Pornografi? Atau masalah kenaikan BBM hingga Tugu Rakyat? Bahkan ceceran darah mahasiswa Unas atau beberapa rekan lainnya tak pernah di gubris. Lanjutkan saja.. Lanjutkan kecuekan dan ke-budeg-an ini. Mungkin baru 2014 keluhan rekan-rekan mahasiswa bisa didengar, itupun kalo ada presiden yang punya kuping sangat besar dan selalu peka dengan seruan mereka.

Sudahlah, tak sabar kupercepat langkah kakiku. Bosan dengan segala ocehan dan tetek bengek negara ini. Lebih baik aku menonton film “Krakatau” yang baru saja kuunduh atau baca bukunya Butet Kartaredjasa untuk mengisi liburanku.

Read More...

Tuesday, June 16, 2009

Pelajaran Berharga dari Kelas ESDAL

Kuliah semester pendek kali ini gw ngambil kelas ESDAL (Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan)di kelas ibu Alin Halimatussadiah. Banyak pelajaran berharga yang didapat di kelas ini, seperti misalnya waktu kuliah ketiga, ibu Alin memberi kita tugas mereview film dan meminta beberapa orang untuk mempresentasikannya. Menyadari arti pentingnya keseimbangan alam yang berkelanjutan menjadi isu utama dalam review film ini. Dari hal-hal sederhana hingga yang berteknologi tinggi menjadi topik pilihan yang menarik untuk disimak.

Seperti misalnya berkendaraan dengan baik dan benar merupakan langkah kecil dalam menyelamatkan lingkungan (ecodriving). Misalnya saja melalui pengukuran tekanan ban yang pas, tangki bahan bakar yang tidak dibiarkan berisi bahan bakar kurang dari setengah luas tangki saat berkendara akan lebih menghemat pemakaian karena tekanan dalam tangki akan berkurang. Begitu juga dengan mengendarai kendaraan secara stabil dalam kecepatan yang konstan dapat menghemat pemakaian bahan bakar hingga 35%.

Demikian pula dengan isu tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik menggantikan sumber daya minyak bumi yang nyaris punah, masih meninggalkan perdebatan yang cukup panjang dimata masyarakat. Seperti contoh kasus ledakan nuklir yang terjadi di Rusia hanya menewaskan beberapa orang pekrja saja, tetapi efek yang terjadi beberapa tahun kemudian adalah mewabahnya penyakit-penyakit yang sangat mematikan seperti hydrocepalus. Cerita lain adalah temuan oleh aktivis lingkungan yang memerangi sampah elektronik di China. Aktivis tersebut menemukan monitor-monitor komputer yang udah jadul, langsung menjadi limbah. Sampah elektronik tersebut dibiarkan menumpuk, terbayang berapa material yang dihemat apabila komponen-komponen yang masih berfungsi didaur ulang.

Dari dalam negeri, isu menarik lainnya adalah penggunaan pukat harimau yang sangat merisaukan kesinambungan habitat-habitat ikan. Kekhawatiran yang sama dialami terumbu karang kita. Penggunaan bom molotov untuk menangkap ikan dapat merusak terumbu karang, padahal butuh waktu lama untuk recovery terumbu karang yang rusak. Gw pernah nonton acara petualangan di Trans7, di Papua, penduduk setempat menggunakan racun yang berasal dari getah tanaman. Getah tersebut hanya memabukkan ikan dalam beberapa saat saja, sehingga tidak merusak seluruh habitat ikan dan terumbu-terumbu karang.

Beralih ke isu penebangan liar hutan-hutan di Indonesia, presentasi tentang illegal logging di Ketapang, dimana kayu asal Indonesia diselundupkan lalu dijual ke negara tetangga ternyata melibatkan aparat pemerintah juga. Kejadian ini mengingatkan gw akan penebangan hutan secara gila-gilaan di Aek Nauli, Simalungun. Penelusuran itu terjadi secara tidak sengaja. Hutan-hutan yang terlihat lebat di luarnya, ternyata gundul didalamnya.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Tidak ada kata telat untuk menyelamatkan bumi sudah tua, sudah saatnya kita mengubah perilaku kita sebelum iklim yang berubah!!

To waste, to destroy our natural resources, to skin and exhaust the land instead of using it so as to increase its usefulness,
will result in undermining in the days of our children the very prosperity
which we ought by right to hand down to them amplified and developed.

~Theodore Roosevelt,

Read More...

Thursday, June 11, 2009

Seandainya musim pilpres itu datang setiap saat...

Uneg-uneg itu muncul begitu saja ketika melihat semua orang yang mempunyai kepentingan dalam pilpres maupun pemilu beberapa saat lalu begitu giatnya turun ke bawah. Sejenak meninggalkan tahta tertingginya selama ini, mereka saling berlomba merangkul orang-orang yang saat ini tertindas. Sebisa mungkin menghindari cap neolib dan berjargon pro-rakyat mereka beraksi.

Peristiwa yag paling dekat adalah ketika Susilo Bambang Yudhoyono melalui ponselnya begitu akrabnya berbincang dengan Siti Hajar, TKI yang disiksa habis oleh majikannya di Malaysia. dukungannya moril yang diberikannya serasa embun pagi bagi pada pahlawan devisa itu. Apa yang diperlihatkan SBY disini seolah seperti pahlawan kesiangan. Mengapa dukungan itu baru datang sekarang? Mengapa tidak dua atau empat tahun lalu? Kemana beliau waktu Siti-Siti lainnya dihajar habis oleh juragan malaysia? Apa yang diperlihatkan oleh SBY adalah cela yang cukup mendalam terhadap bangsa ini karena terkesan seperti mengeksplorasi orang-orang miskin.

Belum lagi perilaku pejabat incumbent lainnya, mengapa ketika musim kampanye beliau begitu senang jalan-jalan ke pesantren atau pasar-pasar tradisional? Dimana beliau ketika warga Porong Sidoarjo menjerit disaat rumah milik mereka habis ditelan lumpur? Ketika masyarakat Yahukimo menjerit kelaparan beberapa waktu silam? Luka itu seolah tak pernah ada ketika semua pihak mengklaim keberhasilan swasembada pangan adalah hasil kerja keras mereka. Sepertinya mereka lupa kalau mereka saling lempar waktu diminta pertanggung jawaban. lihat disini.

Tak ketinggalan pula sang calon fenomenal lainnya Mega-Pro, yang mengklaim diri mereka adalah wong cilik, tapi terasa ironis ketika tahu harta kekayaannya adalah tertinggi di antara calon lainnya. Ketika beliau meneriakkan ekonomi kerakyatan dan tolak asing dengan lantang, ironisnya beliau sendiri memiliki saham mayoritas di belahan bumi eropa dan amerika latin. cek disini.

Mungkin pembaca masih ingat ketika Prita Mulyasari dijadikan campaign tools semua pasangan dengan alibi SELAMATKAN PRITA!! atau pada kasus ambalat, kasus lama yang seperti baru, semua ikut bersuara meneriakkan Ambalat=NKRI.

Halah, politik kampungan!! Apa tak ada lagi dagangan lainnya hingga jualan konvensional seperti ini masih marak terlihat. Tidakkah mereka sadari apabila pasar terlalu jenuh dan bosan dengan tingkah laku capres masa sekarang ini. Seandainya boleh memilih untuk tidak ada presiden, yang ada hanya capres dan cawapresnya, insyaallah rakyat bisa gak jadi rakyat lagi, tidak ada penyiksaan TKI lagi, dlsb, terlepas dari mahalnya biaya untuk menggelar hajatan ini. perhatikan disini.

Read More...

Saturday, May 2, 2009

Romeo Juliet: Sebuah Film yang Melampaui Ekspektasi Judul


Satu lagi penegasan bahwa Indonesia emang republik maniak Bola seperti yang banyak disebutkan orang-orang, baru-baru ini muncul film hasil karya anak bangsa. Film baru berjudul Romeo Juliet. Film yang berkisah tentang percintaan The Jak Mania, Rangga, dengan Viking Persib, Desi, menyuguhkan sajian yang patut diberi acungan jempol. Film ini sepertinya terinspirasi cerita dari mahakarya Shakespeare, Green Street Hooligans, hingga vidklip November Rain-nya Guns 'n Roses, tapi tetap tidak mengesampingkan originalitas filmnya. Film garapan Andi Bachtiar Yusuf ini benar-benar komplit. Mulai dari adegan lucu, menegangkan, mengharukan yang terkadang berujung geram, hingga romantika-romantika percintaan. Hampir tidak ada bagian yang membosankan, walaupun take camera masih kurang pro karena pada beberapa bagian gambar masih goyang.

Film yang meminjam judul dari kisah sukses film yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio ini, menceritakan tentang percintaan antara minyak dengan air, bumi dengan langit, ataupun air dengan api, dimana The Jak Mania jatuh cinta dengan mojang Viking, yang jelas-jelas merupakan musuh bebuyutan di kancah persepakbolaan Indonesia.

Tapi apa yang gw liat jauh lebih berharga daripada percintaan yang banyak ditawarkan film-film drama romantik lainnya. Persahabatan yang kental antara sesama benar-benar ditekankan mampus disini. Terlihat dari adegan saat sahabat-sahabat Rangga (kalo gak salah 4 orang) nekad datang ke Stadion Siliwangi. Bukan hanya karena darahnya yang orange hingga nekad datang ke Bandung demi menonton Persija. Lo tau kenapa guys?? Demi memuluskan niat Rangga ketemu Desi. Hasilnya apa saudara-saudara? Babak belur dikeroyok The Viking!! Adegan yang sama banyak terulang dengan konsep yang dikemas menarik, sampai membuat gw geleng-geleng kepala setengah gak percaya, "Apa ini yang namanya friendship?"

Di film ini juga banyak adegan konyol yang diperagakan teman-teman Rangga sesama The Jak. Adegan lain yang membuat gw begitu terperangah adalah saat Rangga cs mengeroyok habis Viking di terminal Bandung. Aksinya ketika sembunyi di balik bus yang jalan dan seketika menghajar habis Viking hingga modar benar-benar sesuatu yang tak baik untuk ditiru di rumah. Sebenarnya masih banyak adegan-adegan lainnya yang sangat menegangkan, yang bakal bikin lo semua betapa bangga film Indonesia yang satu ini berani keluar dari genre-genre perlatahan perfilm-an Indonesia (baca juga blog gw yang Fenomena Latah). Horor, Komedi, Drama yang mengarah vulgar dan tak jarang juga merupakan kombinasi ketiganya.

Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari sini. Misalnya persahabatan merupakan harga mati (ingat kita lahir sebai mahluk sosial), cinta yang harus diperjuangkan hingga nafas terakhir, fanatisme malah merugikan banyak hal. Lihat waktu akangnya Desi merelakan hidup menjomblo daripada pacaran dengan The Jak Anj**g. Tawuran yang hanya akan menghasilkan abu dan arang saja, dlsb, dst. Pokoknya two thumbs up lah!! Gw rasa (sekaligus berharap) kefanatikan suporter sepakbola di Indonesia disikapi secara dewasa dan positif. No anarchy, no tawuran lagi.

Rasa bangga patut di sematkan pada kita semua karena film ini sedang berjuang di kancah Internasional (Hongkong International Film Festival). Masuknya film yang dibintangi Edo Borne dan Sissy Priscillia ini ke kancah global merupakan pelajaran bagi dunia perfilman kita agar lebih serius meggarap film dan berani mengusung konsep out of the box.


Read More...

Friday, May 1, 2009

“Studi di Belanda, ticket to a global community”

Belajar di Belanda adalah pilihan gw sejak SD. Hahaha... Stress... Salah tema!!

Read More...