Friday, October 14, 2011

Sedotan Plastik, Apa Penggantimu?


Coba hitung berapa sedotan yang ada di meja ini?
Sampai kapan bumi akan menjadi korban dari sampah-sampah plastik ini?
Akankah ada alternatif selain plastik untuk sedotan?
Selengkapnya...

Thursday, October 6, 2011

Liga Inggris dan Perdagangan Bebas

Minggu ini, sorot Tabloid Bola membahas posisi playmaker timnas Inggris yang kian lama kian punah. Setelah era Glenn Hoddle (1979-1988) hingga legenda semacam Bryan Robson, Paul Gascoigne, hingga Jamie Redknapp, nyaris tidak ada posisi playmaker di kubu Three Lions. Ketiadaan playmaker ini diikuti prestasi timnas Inggris yang tidak kunjung membaik. Setelah tanpa playmaker nyaris tidak ada gelar internasional yang dapat diraih timnas berbanding terbalik ketika mengedepankan posisi playmaker, Inggris menjelma menjadi suatu kekuatan yang ditakuti di dunia sepakbola. Ironis memang, negara nenek moyang sepakbola ini justru mengalami masa-masa sulitnya disaat liga domestiknya menjadi yang terbaik di dunia. 

Salah satu penyebab utama yang menjadi biang kerok kegagalan ini adalah serbuan pemain-pemain impor yang mencari peruntungan ke negeri Inggris. Klub-klub papan Liga Premier Inggris hampir tidak ada yang bertumpu pada pemain (playmaker) lokal. Sebut saja Manchester City yang mengedepankan Samir Nasri (Prancis) dan David Silva (Spanyol) sebagai tumpuan klub. Nani dan Anderson (Brasil) menjadi andalan klub MU untuk memporak-porandakan pertahanan lawan. Chelsea pelan-pelan melupakan kontribusi Frank Lampard seiring hadirnya Juan Mata (Spanyol). Nyaris hanya Arsenal yang masih mengandalkan Jack Wilshere, sebagai produk lokal, yang menjadi playmaker timnya. Selain playmaker, masih banyak posisi lainnya yang tidak menyertakan pemain Inggris sebagai andalan timnya berlaga di Liga Inggris. 

Membaca Pertanda 
Jika benar kekhawatiran tersebut disebabkan oleh serbuan pemain asing yang menggerus peluang pemain lokal untuk unjuk gigi, itu artinya menjadi pertanda bagi setiap negara khususnya negara berkembang untuk kembali mempertanyakan peluang perdagangan bebas. Aturan Bosman di Liga Eropa sekelebat mirip peraturan yang mengatur tentang perdagangan bebas yang nyaris tidak menyelamatkan perekonomian bangsa. Serbuan produk-produk impor dari China yang diatas kertas dianggap dapat menggenjot daya saing produk lokal, kenyataan yang ada produksi lokal banyak yang gulung tikar. Mulai dari mainan anak-anak, tekstil, hingga komponen elektronik dari China, tidak mampu disaingi produk lokal baik dari segi harga ataupun kualitas. Gempuran bahan pangan murah dari Thailand dan Vietnam atau yang teranyar pekerja outsourcing mancanegara (baca: naturalisasi pemain asing) siap membanjiri negara Indonesia hingga beberapa dekade kedepan. Tulisan ini bukan berarti menjadi suatu sikap skeptis atau antipati terhadap "jajahan" produk-produk asing mengingat banyak pula kontribusi asing terhadap perkembangan yang terjadi di Indonesia sama halnya dengan perkembangan yang terjadi di kompetisi sepakbola Inggris. Namun dirasa perlu semacam perlindungan pada semua elemen nasional sebagai jaminan terselenggaranya kemakmuran bangsa. Bagaimanapun misi penyelamatan produk dan pengusaha domestik adalah hal yang harus diutamakan oleh segenap pemegang kebijakan. Kita tidak tahu kapan saatnya peraturan-peraturan perdagangan ini akan menghancurkan produk dan pengusaha lokal. Di Inggris, sejak aturan Bosman berlaku sejak 17 tahun yang lalu, praktis tidak ada perkembangan yang berarti bagi tim nasional sepakbola Inggris. Akankah?
Selengkapnya...

Friday, September 16, 2011

surprise 24

Surprise mungkin hal yang hampir terus gw terima dari Pamela tiap kali gw ulang tahun. Tapi entah kenapa feeling gw di ulang tahun gw yang ke-24 ini gw gak bakal dapet surprise dari dia. Sedih sih pasti ada, tapi setelah 2 hari berturut-turut doi lembur gila-gilaan di kantor gw jadi agak sedikit berlapang dada. Toh selama 24 tahun di dunia yang fana ini, baru 4 tahun terakhir doang pake2 surprise begini. Hehehe..
16 September 2011, tepat pukul 00.00 doi, sari, riko, sama moren tiba-tiba datang ke kosan. Pake hiasan kepala, terompet, dan hhhmm, tart berbentuk logo LIVERPOOL!!! Great!! Beuh, senang sesenang-senangnya. Gw memang bukan pujangga atau pria romantis yang bisa mengeksplor kejutan semalam dengan baik. Tapi dari hati yang paling tulus, gw berterima kasih banget buat Riko, Sari, dan Moren yang udah mau ikut meramaikan ulang tahun gw dan khususnya, Pamela yang menjadi aktor utamanya. Pulang dari kantor langsung ke Depok malem2 banget, niup balon di taksi, nyiapin kado (banyak), dan segalanya dan segalanya. Pokoknya sempurna deh! 
Thanks a lot Pamela untuk bersedia menemani gw sampai detik ini, semoga doa dan harapan-harapan yang kita sampaikan hari ini bisa terwujud. Amiiiiiiiin.
Thanks God udah memberikan saya seorang Pamela. Jagai dia.
Salam #kalee
Selengkapnya...

Monday, September 12, 2011

Rancang Pemerataan Pembangunan Nasional: Marsipature Hutanabe

Lebaran baru saja berakhir. Setelah melewati sebulan ujian berpuasa, umat muslim seperti biasa melewati hari lebaran dengan mudik ke kampung halaman. Bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman setelah lama merantau di tanah orang sudah menjadi tradisi turun temurun di Indonesia. Sama halnya dengan tradisi Thanksgiving atau Hari Natal di negara-negara maju lainnya di belahan Amerika maupun Eropa. Peredaran uang meningkat selama periode ini. Daerah mendapat cipratan uang dari setiap tangan pemudik. Dibalik itu semua, pemerintah menghadapi pekerjaan rumah yang setiap tahun akan dihadapi yakni problematika arus urbanisasi dan turunannya.

Secara ekonomi, fenomena ini menunjukkan suatu negara masih memiliki ketimpangan pembangunan yang tidak merata dan hanya terpusat pada kota-kota besar, seperti misalnya Jakarta di Indonesia. Daya tarik pulau Jawa sebagai pusat perputaran uang menjadi magnet bagi semua warga dari pelosok negeri untuk mengadu nasib di pulau Jawa. Tidak jarang, banyak angkatan kerja yang tingkat pendidikannya tergolong rendah menjadi korban dari kerasnya roda kehidupan di Jakarta. Mereka banyak beredar pada sektor nonformal, seperti tukang sampah, pedagang kecil, kuli bangunan, pekerja serabutan di sektor industri, atau sejenisnya yang justru menempati porsi yang cukup besar seperti Batam, Jakarta, atau kota-kota besar di pulau Jawa. Keadaan ini semakin diperparah lagi dengan lulusan sarjana yang pertumbuhannya ribuan tiap tahunnya, mengisi ruang-ruang sempit kota-kota tersebut. Sebagian besar diantaranya menjadi pengangguran atau yang sedang mencari pekerjaan.

Program-program transmigrasi, otonomi daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, atau transfer ke daerah seolah tidak mampu menjadi katalis dalam mewujudkan cita-cita bangsa yang menginginkan pembangunan yang adil dan merata. Gagal mengharapkan pemerintah pusat sebagai tulang punggung penghidupan yang layak, tantangan terbesar kini berada pada pengusaha lokal untuk membangun daerahnya masing-masing dengan potensi daerah yang dimilikinya. Di Sulawesi Selatan, keluarga Haji Kalla sukses menjadi putra daerah yang memajukan daerahnya. Berita terbaru menyebutkan keluarga Kalla melalui bendera Kalla Group siap membangun MRT (Mass Rapid Transportation) untuk memecah masalah transportasi di Makassar. Kisah sukses Joko Widodo, Walikota Solo yang juga putra asli Surakarta, patut menjadi contoh pemimpin daerah yang mampu memajukan kota Solo dengan jeli melihat potensi daerahnya yang banyak ditopang oleh usaha kecil dan menengah (didominasi oleh pedagang kaki lima). Kemampuannya mengelola daerah dengan jeli diganjar dengan penghargaan sebagai kota pro-investasi dari Bapepam Jateng. Dari Bali, Bupati Badung-AA Gde Agung- misalnya mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi daerahnya yang berbasis kerajinan tangan dan pertanian hingga memperoleh penghargaan khusus Presiden sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi 2007.

Sebenarnya masih banyak daerah diluar kota besar tujuan arus urbanisasi yang mampu menahan laju urbanisasinya dengan cara mengembangkan industri berbasis kekayaan sumber daya alam lokal yang semuanya berujung pada pemanfaatan potensi daerah masing-masing termasuk sumber daya manusianya. Meminjam istilah pembangunan Mayjen Raja Inal Siregar, Marsipature Hutanabe (Mari benahi daerah kita masing-masing), konsep pembangunan regional yang menjadikan putra daerah sebagai garda terdepan pembangunan daerah, sudah sepantasnya kita menjadi tuan di tanah (daerah) sendiri. Mengembangkan potensi daerah seoptimal mungkin tanpa harus merusak sumber daya alam. Sambil membantu pemerintah pusat mengurai pembangunan yang tidak merata, secara langsung atau tidak langsung, kita bisa menjadi kontrol dan motor penggerak pembangunan daerah kita sendiri yang secara terakumulasi membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selengkapnya...

Friday, August 26, 2011

Nasib Pangan Indonesia

Identitas Indonesia sebagai negara agraria seharusnya mulai dipertanyakan. Setelah sempat menyandang gelar negara swasembada pangan, Indonesia sepertinya tidak mampu mempertahankan reputasi tersebut seiring dengan meningkatnya permintaan atau kebutuhan akan pangan. Pertumbuhan penduduk yang terus naik tidak diiringi dengan penyediaan pangan yang baik yang justru menandaskan teori Malthus. Serangan impor pangan dari berbagai negara seakan tak berdaya untuk dihadapi petani-petani lokal. Kondisi lain pemerintah pusat melalui RAPBN 2012 tidak menunjukkan keberpihakan pada nasib petani. Lampu kuning akan nasib sektor pertanian Indonesia semakin dipertegas dengan tren penurunan kontribusi angkatan kerja di sektor ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari hingga Juni 2011, nilai impor pangan mencapai US$ 5,36 miliar atau sekitar Rp 45 Triliun. Nilai impor tersebut mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun sebelumnya pada semester yang sama yakni sebesar US$ 4,66 miliar atau setara dengan Rp 39,91 triliun. Berturut-turut bahan pangan yang diimpor adalah beras, garam, gula, hingga cabai merah. Peningkatan nilai impor pangan tersebut didasari untuk memenuhi ketersediaan kebutuhan pangan dalam negeri. Kebijakan instan ini semakin memojokkan pertanian domestik yang belum juga mampu memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Impor pangan ini hanya akan menguntungkan para petani besar, petani yang memiliki luas lahan yang sangat luas, namun akan berdampak buruk pada petani gurem yang berarti akan menyulitkan mereka dalam pemenuhan kebutuhan pangan, pendidikan, dan transportasi.

Komitmen pemerintah yang menyatakan tetap menjaga nasib petani lokal dari serbuan stok pangan dari asing patut dipertanyakan kembali. Pada APBN-P 2011, subsidi pupuk untuk petani hanya sebesar Rp 18,803 triliun dan subsidi benih senilai Rp 120 miliar. Jumlah ini akan terlihat sangat kecil apabila dibandingkan dengan subsidi BBM senilai RP 129,724 triliun yang kebanyakan sasarannya tidak tepat, atau bila dibandingkan dengan belanja pegawai yang mendapat porsi paling besar dalam APBN-P 2011 yakni sebesar Rp 162,875 triliun. Pada RAPBN 2012, nilai subsidi pupuk dan benih pun cenderung tidak mengalami peningkatan yang berarti ditengah hantaman laju inflasi dan perubahan iklim. APBN yang timpang ini tidak lagi berlandaskan pada pro growth, pro poor, dan pro job.

Ditengah ancaman dari faktor-faktor eksternal tersebut diatas, pertanian Indonesia juga mengalami kendala dari sektor internalnya. Data BPS memperlihatkan tren penurunan angkatan kerja yang bekerja pada sektor pertanian. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya penduduk yang melakukan migrasi ke perkotaan baik untuk bekerja di sektor formal ataupun nonformal yang menempati ruang-ruang sektor industri ataupun jasa. Transfer teknologi yang minim ke sektor pertanian juga cenderung menjadi penyebab usia angkatan kerja produktif enggan terjun ke dunia pertanian. Fakultas bahkan perguruan tinggi berbasis pertanian hanya menjadi modal untuk memasuki sektor-sektor perbankan dan jasa lainnya.

Sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih kepada sektor primer ini mengingat 85 persen kebutuhan karbohidrat penduduk Indonesia berada pada sektor ini. Jepang sebagai negara maju mampu mendorong anak mudanya untuk bekerja di sektor pertanian karena besarnya nilai investasi untuk sektor ini. Investasi teknologi ataupun suntikan dana yang tepat sasaran diyakini dapat menyelamatkan sektor pertanian Indonesia dan mengembalikan identitas bangsa sebagai negara swasembada pangan.
Selengkapnya...

Thursday, March 17, 2011

Jamaah Ahmadiyah: Kenapa Harus Dibunuh?

Teror yang melanda Ahmadiyah, agama yang tidak diakui di republik demokrasi ini, semakin menjadi-jadi. Kalau bukan karena isu politik-hukum; narkotika dan artis; atau rangkaian bom di negara ini, bukan tidak mungkin kekerasan terhadap agama ini akan semakin besar. Seperti biasa, ajaran yang dianggap kontroversial ini menelurkan banyak pro dan kontra. Banyak yang setuju dibubarkan, namun tidak sedikit yang mendukungnya untuk tetap bertahan.

Kejadian yang paling teringat akan kekerasan pada agama ini apalagi kalau bukan peristiwa Cikeusik, yang mana rekaman kekerasannya beredar luas di dunia maya dan begitu mudah diakses oleh siapa saja.Pemerintah sudah mengambil jalan tengah, yang dianggap tidak adil oleh mereka yang mengatasnamakan tuhannya untuk membantai sesama.
Tidak ada yang tahu persis bagaimana kejadian itu dimulai, siapa yang mendalangi, atau atas dasar apa sehingga terjadi. Sebagian menganggap, Ahmadiyah harus dibubarkan, tidak sesuai bahkan jauh dari ajaran-ajaran Islam. Dibubarkannya Ahmadiyah menjadi harga mati atau bahkan pengikutnya juga harus mati.
Ironis memang. Disaat Indonesia sedang mencoba membangun kepercayaan dunia atas indahnya keanekaragaman budaya dan agama, kejadian ini seakan mencoreng muka bangsa Indonesia. Beruntung Presiden tidak memenangi nobel perdamaian tahun 2006, kalau tidak, apa kata dunia atas aksi ini? Pondasi demokrasi yang dibangun susah payah sejak dulu seakan menemui jalan buntu.

Jauh sebelum kekerasan ini terjadi, Wali Songo mengajarkan Islam kepada penduduk Jawa, yang kebanyakan masih beraliran animisme. Sukses besar diraih mereka, hingga menjadikan pulau Jawa sebagai pulau dengan mayoritas muslim terbesar di Indonesia (atau bahkan di dunia?). Ajaran yang diberikan tanpa kekerasan, semua mengajarkan ilmu kebajikan persis sama seperti yang tertulis pada Al-Quran. Tidak mudah memang, ada yang resisten terhadap ajaran baru yang dibawa Wali Songo. Namun secara perlahan, melalui kebudayaan-kebudayaan yang dianut masyarakat setempat, seperti wayang dan alat musik, berbagai aliran kepercayaan ditinggalkan masyarakat dan memeluk Islam.
Di utara Sumatera tahun 1862, Ludwig Ingwer Nommensen, misionaris Jerman, secara tekun mengajarkan agama Kristen Protestan kepada masyarakat Batak kurang lebih selama 57 tahun. Hasilnya, jutaan pengikut Nommensen bertahan hingga sekarang, terlihat dari Gereja HKBP yang tetap eksis ditengah maraknya ajaran-ajaran kepercayaan baru. Tokoh-tokoh diatas meyebarkan agama dengan sangat sabar dan tekun. Seperti pepatah umumnya, ajaran yang didapatkan/diberikan secara instan tidak akan bisa bertahan lama.

Kembali ke masa sekarang? Mengapa tidak ada lagi semangat Wali Songo itu? Atau Nommensen? Apalagi mereka yang mengaku paling paham akan ajaran agamanya.. Mengapa harus dengan kekerasan? Saya pribadi angkat topi dengan cara-cara orang jaman dulu dalam mengajarkan agama. Mengajarkannya dengan tulus, sabar, dan tekun. Tidak jarang ancaman-ancaman didapat mereka tapi mereka tidak pernah menyerah. Pesan moral tokoh agama tersebut gagal ditangkap oleh mereka pelaku kekerasan terhadap agama. Secara tidak sadar, yang tinggal hanya benci dan trauma atas aksi-aksi kekerasan ini. SKB 3 Menteri nyaris hanya pepesan kosong. Bualan belaka kalau tidak diikuti oleh upaya-upaya persuasif untuk meminta kembali Ahmadiyah kembali ke jalan yang benar. Saya memang bukan pemuka agama, bukan pula orang yang mengerti agama. Yang saya tahu, semua ajara agama mengajarkan kebaikan dan tak satupun agama yang mendorong umatnya untuk melakukan penganiayaan terhadap sesamanya manusia. Jalan terbaik adalah menyadarkan mereka yang dianggap telah menyimpang, bukan dengan cara-cara yang lebih mirip pendidikan binatang di sirkus jalanan, memang tampak indah dari luar, tetapi di dalamnya menyimpan sejuta dendam dan duka yang siap memporakporandakan pertunjukan sirkus.
Selengkapnya...

Tuesday, March 15, 2011

Nasib Ekspor Impor Indonesia Setelah Bencana Jepang

Disarikan dari Skripsi Sarjana, 2011.

Gelombang tsunami dan gempa yang terjadi pekan lalu di Jepang tidak hanya menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh warga dunia terutama warga Jepang. Setelah memporak-porandakan negeri Jepang, imbas yang mendalam cukup dirasakan dunia mengingat Jepang merupakan salah satu negara kunci perekonomian dunia. Basis industri dunia yang berpusat di negara Matahari Terbit tersebut, seperti elektronik dan otomotif luluh lantak diterjang alam. Berturut-turut, Jepang dibombardir oleh guncangan gempa, tsunami, ledakan pipa gas, dan terbesar risiko radiasi nuklir yang memaksa ribuan warga untuk mengungsi.

Indonesia sebagai negara yang menggantungkan sebagaian perekonomiannya pada Jepang turut mengalami guncangan. Selain hutang dan investasi yang bernilai cukup besar, neraca perdagangan Indonesia juga akan cukup mengalami efek yang sangat signifikan. Sejak tahun 2000, nilai impor Indonesia dari Jepang berada pada kisaran 17 persen dari total impor Indonesia, sedangkan ekspor Indonesia ke Jepang pada selang waktu yang sama rata-rata 14 persen dari total ekspor Indonesia yang bernilai lebih dari 12 miliar USD. Sejak perjanjian kerjasama pertama ditandatangani di tahun 1961, Jepang merupakan negara pertama tujuan ekspor Indonesia dan nilai ekspor dan impor Indonesia dengan Jepang terus menunjukkan tren peningkatan.

Komoditi-komoditi andalan ekspot Indonesia ke Jepang yang bakal mengalami gangguan adalah material-material mentah seperti kayu dan bijih besi dengan nilai rata-rata perkuartalnya adalah 140 miliar Yen (100 Yen = Rp 10738.07). Komoditi lain yang bakal ikut terganggu kinerja ekspornya adalah makanan dan hewan hidup seperti ikan, udang, lobster, sayuran, dan buah-buahan dengan nilai transaksi pertahunnya rata-rata 105 miliar yen. Disamping itu terdapat juga komoditi ekspor andalan seperti bahan baku industri di Jepang seperti logam buatan pabrik, material/komponen elektronik seperti televisi, reaktor nuklir dan lain-lain.
Disisi lain, kinerja manufaktur di Indonesia juga cukup bergantung pada kinerja perekonomian di Jepang, mengingat impor Indonesia dari Jepang sebagian besar merupakan barang baku penolong yang otomatis akan mengganggu aktifitas domestik Indonesia (walaupun Indonesia dapat memperoleh bahan dari negara lain).

Kondisi diatas memperlihatkan, situasi yang sulit bagi Indonesia. Pertama, karena menurunnya permintaan dari Jepang, yang berarti eksportir Indonesia kehilangan "pelanggan tetap" untuk beberapa saat karena struktur ekspor Indonesia yang tidak terdiferensiasi. Kedua, Indonesia akan kehilangan pendapatan yang cukup besar dari nilai transaksi perdagangan yang bakal terganggu, yang berarti akan menahan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Untuk itu, dalam jangka panjang, pemerintah perlu lebih interaktif membantu para pengusaha Indonesia, baik dengan melakukan pencarian pasar baru komoditas ekspor Indonesia selain ke Jepang, atau secara tepat mengembangkan industri-industri berbahan baku yang di ekspor ke Jepang. Dengan demikian, para pengusaha (baik komodotas yang dikonsumsi atau inedible) tidak perlu khawatir akan gejolak yang terjadi pada negara tujuan ekspor Indonesia.
Selengkapnya...